Wednesday, October 18, 2017

Pertumbuhan dan Perkembangan Kota

Pada  dasarnya pertumbuhan dan perkembangan kota dapat dilihat dengan bertumbuh besaran kota dan bertumbuhnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun.
     Pertumbuhan dan perkembangan kota pada prinsipnya menggambarkan proses berkembangnya suatu kota. Pertumbuhan kota mengacu pada pengertian secara kuantitas,yang dalam hal ini dindikasikan oleh besaran faktor produksi yang dipergunakan oleh sistem ekonomi kota tersebut. Semakin besar produksi berarti ada peningkatan permintaan yang meningkat. Sedangkan perkembangan yang mengacu pada kualitas,yaitu proses keadaan yang berifat kemataman.
     Pada dasarnya ada 3 faktor yang menpengaruhi pertumbuhan kota yaitu:
a.       Faktor penduduk, yaitu adanya pertumbuhan penduduk baik disebabkan karena pertambahan alami maupun pertumbuhan migrasi.
b.      Faktor sosial ekonomi,yaitu perkembangan kegiatang usaha  masyarakat
c.       Faktor sosial budaya, adanya perubahan pola kehidupan dan tata cara masyarakat akibat pengaruh luar, komunikasi dan sistem informasi.
TEORI PEMBENTUKAN KOTA :
1.       Central Place ( Tempat Pusat )
Teori ini menjelaskan bahwa kota adalah pusat pelayan barang dan jasa untuk daerah hinterland (daerah sekitarnya).  Kota utama tumbuh karena adanya permintaan barang dan jasa pada kota sekitarnya,contoh malasyia ke batam yang menyebkan berkembangnya kota Batam.
2.       Urban Ecomic base ( Basis ekonomi Perkotaan )
Teori ini menjelaskan pusat pelayan dan jasa tapi bukan hanya untuk daerah melainkan untuk luar batas wilayahnya atau internasional. Menurut teori urban base struktur ekonomi perkotaan terdiri dari 2 kategori yaitu kegiatang-kegiatang dasar (basic activities) yang menproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa untuk di ekspor di luar kota,dan kegiatan-kegiatan jasa non dasar ( non basic activities ) dimana barang dan jasa yang dihasilkan akan dikonsumsi untuk di daerah perkotaan sendiri.
Ciri-ciri kelemahan Urban economic basa :
1.       Terdapat kesulitan dalam mengukur economic base,khusunya masalah bagaimana membedakan anatara kegiatan dasar dan non dasar.
2.       Tidak dapat meramalkan pertumbuhan dan perkembangan kota di masa depan
3.       Terdapat kelamahan teoritik yaitu pembagian terhadap 2 sektor (dasar dan non dasar) bisa dikatan dapat diartikan tidak menpunyai arti penting.
3.       Export base (Teori Penawaran )
Teori ini menjelaskan bahwa kota pusat penawaran barang dan jasa untuk daerah sekitarnya ataupun internasional.

Tuesday, October 17, 2017

Manfaat Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam Perencanaan Wilayah dan Kota

Sistem informasi geografis adalah suatu sistem yang berbasis komputer dengan kemampuan menangani data bereferensi geografis, yang meliputi pemasukan, pengelolaan atau manajemen data (penyimpanan dan pengaktifan kembali), manipulasi dan analisis, serta keluaran data. Pengertian lain tentang GIS atau Sistem Informasi Berbasis Pemetaan dan Geografi adalah sebuah alat bantu manajemen berupa informasi berbantuan komputer yang berkait erat dengan sistem pemetaan dan analisis terhadap segala sesuatu serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi.
SIG memungkinkan untuk membuat tampilan peta serta menggunakannya untuk keperluan presentasi khususnya dalam kajian Perencanaan Wilayah dan Kota . SIG memungkinkan untuk menggambarkan dan menganalisa informasi dengan cara pandang baru, mengungkap semua keterkaitan yang selama ini tersembunyi, pola, dan kecenderungannya.
 Untuk mendukung suatu Sistem Informasi Geografis, pada prinsipnya terdapat dua jenis data, yaitu:
  1. Data spasial, yaitu data yang berkaitan dengan aspek keruangan dan merupakan data yang menyajikan lokasi geografis atau gambaran nyata suatu wilayah di permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan dalam grafik, peta, atau pun gambar dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x,y (vektor) atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu. 
  2. Data non-spasial, disebut juga data atribut, yaitu data yang menerangkan keadaan atau informasi-informasi dari suatu objek (lokasi dan posisi) yang ditunjukkan oleh data spasial. Salah satu komponen utama dari Sistem Informasi Geografis adalah perangkat lunak (software). Perangkat lunak ini berfungsi sebagai alat yang dapat membantu dalam memvisualisasikan, mengeksplorasi, menjawab query, dan menganalisis data secara geografis
Manfaat GIS dalam Perencanaan Wilayah dan Kota
  1. Inventarisasi Sumber Daya Alam. Melalui penerapan GIS, dapat diidentifikasi tentang potensi-potensi alam yang tersebar di suatu wilayah. Identifikasi ini akan memudahkan dalam pengelolaan sumber alam untuk kepentingan orang banyak.
  2. Disaster Management. Artinya, aplikasi GIS dapat digunakan untuk melakukan pengelolaan rehabilitasi pasca bencana. Misalnya, saat bencana tsunami menerjang Aceh dan Nias, Badan Rehabilitasi – Rekonstruksi Aceh – Nias (BRR Aceh-Nias) menggunakan GIS untuk memetakan kondisi terkini dan menentukan prioritas pembangunan di lokasi yang paling parah kerusakannya.
  3. Penataan Ruang & Pembangunan sarana-prasarana. Manfaat teknologi GIS yang ketiga ini dapat berbentuk banyak hal. Mulai dari analisis dampak lingkungan, daerah serapan air, kondisi tata ruang kota, dan masih banyak lagi. Penataan ruang menggunakan GIS akan menghindarkan terjadinya banjir, kemacetan, infrastruktur dan transportasi, hingga pembangunan perumahan dan perkantoran.
  4. Investasi Bisnis dan Ekonomi juga merupakan manfaat yang bisa didapatkan dari aplikasi GIS. Dengan adanya peta informasi daerah, dapat ditentukan arah pembangunan. Dan para investor pun bisa menentukan strategi investasinya berdasarkan kondisi geografis yang ada, kondisi penduduk dan persebarannya, hingga peta infrastruktur dan aksesibilitas.
  5. GIS dapat digunakan untuk memprediksi pergerakan asap akibat kebakaran hutan atau asab limbah beracun. GIS juga bisa digunakan untuk memprediksi perkembangan daerah berpopulasi tinggi, yang membantu perencanaan pembangunan fasilitas public.
  6. GIS dapat digunakan sebagai alat bantu, baik sebagai tools maupun bahan tutorial utama yang interaktif, dan menarik dalam usaha untuk meningkatkan pemahaman, pembelajaran dan pendidikan  mengenai ide-ide atau konsep-konsep lokasi, spasial/keruangan, kependudukan dan unsur-unsur geografis yang terdapat di permukaan bumi berikut data-data atribut yang menyertainya.
  7. GIS memiliki kemampuan-kemampuan untuk mengurai unsur-unsur yang terdapat di permukaan bumi dalam bentuk layer atau coverage data spasial. Dengan layer ini permukaan bumi dapat direkonstruksi kembali atau dimodelkan dalam bentuk nyata (real world seperti tiga dimensi) dengan menggunakan data ketinggian beserta layer tematik yang diperlukan.
  8. GIS memiliki kemampuan-kemampuan yang sangat baik dalam menvisualisasikan data spasial beserta atribut-atributnya. Model warna, bentuk dan ukuran simbol yang diperlukan untuk merepresentasikan unsur-unsur permukaan bumi dapat dilakukan dengan mudah.
  9. Hampir semua operasi termasuk analisisnya yang dimiliki oleh perangkat GIS terutama desktop GIS dapat dilakukan secara interaktif dengan bantuan menu-menu dan help yang bersifat user friendly.
  • GIS dapat menurunkan data-data secara otomatis tanpa keharusan untuk melakukan interprestasi secara manual. Dengan demikian GIS dengan mudah dapat menghasilkan peta-peta lainnya dengan hanya memanipulasi atribut-atributnya.
  • Perangkat lunak GIS saat ini juga menyediakan fasilitas untuk berkomunikasi dengan alikasi-aplikasi perangkat lunak lainnya sehingga dapat bertukar data secara dinamis melalui fasilitas OLE (Object Linking and Embedding) maupun driber ODBC (Open Database Connectivity).
  • GIS, pada saat ini sudah dapat diimplementasikan sedemikian rupa sehingga dapat bertindak sebagai map-server atau GIS-server yang siap melayani permintaan baik dari clients melalui jaringan lokal (intrabet) maupun jaringan internet (web-based).
  • GIS sangat membantu pekerjaan-pekerjaan yang erat kaitannya dengan bidang-bidang spasial dan geo-informasi. Oleh karena itu, pada saat ini hampir semua disiplin ilmu terutama yang terkait dengan informasi spasial juga mengenal dan menggunakan GIS sebagai alat bantu analisis dan presentasi yang menarik.

Secara garis besar SIG merupakan program komputer yang sangat bermanfaat khususnya dalam dunia perencanaan wilayah dan kota terutama dalam hal penyajian informasi-informasi secara grafis. SIG dapat menyajikan suatu data dengan jelas serta lengkap, dengan menggunakan SIG presentasi dapat disajikan dengan lebih baik karena terbantu dengan fitur-fitur pengolahan dan penyajian data yang dimiliki oleh aplikasi SIG yang baik.

Tuesday, October 10, 2017

Urban Farming

emakin terbatasnya lahan akibat pembangunan membuat kegiatan berkebun jarang ditemukan di kota. Terlebih lagi tidak tersedianya waktu bagi masyarakat kota yang cenderung disibukkan dengan pekerjaan. Namun, tahukah Anda bahwa kini berkebun pun tidak mustahil dilakukan di kota. Kegiatan ini lebih dikenal dengan sebutan urban farming.

Tentu saja berkebun di lokasi padat penduduk, seperti Jakarta dan kota - kota besar lainnya berbeda dengan di desa yang masih memiliki lahan cukup luas. Butuh siasat tersendiri. Dengan kreativitas dan kemauan tinggi, ide memiliki kebun di halaman rumah pun bisa terwujud. Pada dasarnya berkebun memang bisa dilakukan di mana saja. Hanya saja kita harus menaruh perhatian lebih pada jenis tanaman yang akan dipilih. Untuk lahan yang sempit, Anda bisa memulainya dengan menanam basil , cabai, tomat, atau sawi. Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk mencoba jenis tanaman yang lain sebagai variasi.

Bisa dibilang, urban farming atau berkebun di kota muncul sebagai jawaban atas kegelisahan masyarakat menyikapi semakin terbatasnya lahan. Diperparah dengan tingkat polusi dan minimnya kawasan hijau membuat kota semakin gersang. Mereka yang masih peduli dengan lingkungan pun mencoba mencari jawaban atas kegelisahan ini. Dari sinilah konsep urban farming lahir dan akhirnya dikenal secara luas.

Secara umum, urban farming merupakan kegiatan pertanian yang dilakukan dengan memanfaatkan lahan sempit di perkotaan. Kegiatan urban farming mencakup kegiatan produksi, distribusi, hingga pemasaran produk-produk pertanian yang dihasilkan. Bagi masyarakat kota, urban farming biasanya lebih bersifat rekreasi. Ada kepuasan tersendiri jika kebun sederhana yang dikelola membuahkan hasil dan dapat dikonsumsi.

Sejarah Urban Farming

Urban Agriculture sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, tepatnya di Machu Pichu, di mana sampah-sampah rumah tangga dikumpulkan menjadi satu dan dijadikan pupuk. Air yang telah digunakan masyarakat dikumpulkan menjadi sumber pengairan melalui sistem drainase yang telah dirancang khusus oleh para arsitek kota di masa itu.
Pada Perang Dunia II di Amerika Serikat dicanangkan program Victory Garden, yaitu membangun 
taman di sela-sela ruang yang tersisa. Program ini dipercaya menjadi cikal-bakal gerakan urban farming . Dari program tersebut pemerintah Amerika Serikat mampu menyediakan 40% kebutuhan pangan warganya pada waktu itu.
Perhatian akan manfaat Urban Agriculture menjadi berkembang ketika masyarakat di berbagai belahan dunia menyadari bahwa semakin hari pertumbuhan penduduk semakin besar dan kebutuhan akan makanan juga bertambah, sementara luas lahan pertanian semakin berkurang. 
Maka mulailah lahan-lahan kosong di daerah perkotaan dipakai sebagai tempat bercocok tanam. Mulai dari lahan sempit di depan rumah hingga atap - atap gedung-gedung pencakar langit, kini dimanfaatkan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan berkebun.

Selain menyenangkan, urban farming juga membantu memberikan kontribusi terhadap ruang terbuka hijau kota dan ketahanan pangan. Bisa dibayangkan jika setiap gedung mengadopsi kegiatan urban farming. Tentunya Jakarta akan semakin hijau dan sejuk.

Untuk saat ini, tren urban farming sedang menjangkiti beberapa kota besar, antara lain Surabaya dan Jakarta. Begitu besar manfaat urban farming bagi lingkungan. Oleh karena itu, lebih baik manfaatkanlah lahan kosong Anda sekarang juga. Akan lebih menyenangkan jika kegiatan ini juga melibatkan anggota keluarga, terutama anak-anak. Selain untuk mengenal alam dan menambah pengetahuan, momen berkebun juga bisa digunakan untuk menikmati waktu bersama keluarga.

Manfaat Urban Farming

  1. Urban farming memberikan konstribusi penyelamatan lingkungan dengan pengelolaan sampah reuse dan recyle.
  2. Dapat menghasilkan oksigen dan meningkatkan kualitas lingkungan kota. Untuk konsumsi pribadi sebagai bagian dari gaya hidup organik yang sehat.
  3. Membantu menciptakan kota yang bersih dengan pelaksanaan 3R (reuse, reduse, recycle) untuk pengelolaan sampah kota.

Penyebab Disparitas Antar Wilayah

Ada beberapa faktor utama penyebab disparitas antar wilayah. Faktor - faktor ini terkait dengan variabel - variabel fisik dan sosial ekonomi wilayah, antara lain :
  1. Geografi
  2. Sejarah
  3. Politik
  4. Kebijakan pemerintah
  5. Administrasi
  6. Sosial budaya
  7. Ekonomi

Tingkat perkembangan wilayah sangat bergantung dengan variasi dan kualitas sumberdaya, topografi, iklim, curah hujan, dsb. Apabila faktor lain tersebut sama, maka kondisi geografi yang lebih baik akan berkembang lebih baik sehingga menyebabkan disparitas antar wilayah.

Demikian juga kondisi masa lalu yang berpengaruh pada perkembangan wilayah di masa depan. Bentuk organisasi dan kehidupan ekonomi pada masa lalu merupakan penyebab penting terutama terkait sistem insentif terhadap kapasitas kerja dan enterpreneurship.

Instabilitas politik sangat mempengaruhi tingkat perkembangan wilayah. Politik yang stabil akan menyebabkan ketidakpastian di berbagai bidang terutama ekonomi sehingga berpengaruh pada iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Disparitas antar wilayah juga diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang menekankan pertumbuhan ekonomi dengan membangun pusat - pusat pertumbuhan sehingga menimbulkan kesenjangan antar wilayah yang ekstrim. Selain itu akibat trickle down effect yang tidak terjadi secara efektif dan justru backwash effect yang mengakibatkan eksplotasi sumberdaya secara berlebihan dari wilayah hinterland.

Ketidakefisienan bidang administrasi juga menjadi penyebab disparitas antar wilayah. Wilayah yang tidak memiliki administrator jujur, terpelajar, terlatih dan sistem admistrasi yang efisien sulit untuk mengalami perkembangan dibanding wilayah yang memiliki administrasi efisien. Hal tersebut dikarenakan keunggulan sistem administrasi mampu mengundang investasi karena proses perijinan yang mudah.

Kondisi sosial dan budaya masyarakat yang tertinggal umumnya tidak memiliki institusi dan perilaku kondusif bagi perkembangan ekonomi. Masyarakat yang masih primitif, kepercayaan tradisional dan nilai sosial yang konservatif dan menghambat perkembangan ekonomi menjadi salah satu faktor penyebab disparitas wilayah terjadi.

Faktor ekonomi yang menyebabkan terjadinya disparitas wilayah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  • Perbedaan kuantitas dan kualitas faktor produksi seperti lahan, infrastruktur, tenaga kerja, modal, organisasi, dan perusahaan.
  • Akumulasi berbagai faktor seperti lingkaran kemiskinan, baik karena sumberdaya yang terbatas dan ketertinggalan masyarakat yang menyebabkan kemiskinan, maupun kondisi masyarakat yang tertinggal, produktivitas rendah, efisiensi rendah, investasi rendah, pendapatan rendah, konsumsi rendah, standar hidup rendah, pengangguran meningkat yang mengakibatkan wilayah tersebut semakin tertinggal.
  • Pasar bebas dan pengaruh spread effect dan backwash effect. Kekuatan pasar bebas telah mengakibatkan faktor - faktor ekonomi seperti tenaga kerja, modal, perusahaan dan ektivitas ekonomi cenderung terkonsentrasi di wilayah - wilayah berkembang atau maju. Perkembangan wilayah ini terjadi karena penyerapan sumberdaya dari wilayah sekitar (backwash effect), sedangkan spread effect terjadi lebih lemah dibanding backwash effect sehingga wilayah yang beruntung akan semakin berkembang dan kawasan yang kurang beruntung akan semakin tertinggal.
  • Distorsi pasar seperti immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi, keterbatasan keterampilan, tenaga kerja, dll.
Disparitas antar wilayah juga diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang menekankan pertumbuhan ekonomi dengan membangun pusat - pusat pertumbuhan sehingga menimbulkan kesenjangan antar wilayah yang ekstrim. Selain itu akibat trickle down effect yang tidak terjadi secara efektif dan justru backwash effect yang mengakibatkan eksplotasi sumberdaya secara berlebihan dari wilayah hinterland.

Ketidakefisienan bidang administrasi juga menjadi penyebab disparitas antar wilayah. Wilayah yang tidak memiliki administrator jujur, terpelajar, terlatih dan sistem admistrasi yang efisien sulit untuk mengalami perkembangan dibanding wilayah yang memiliki administrasi efisien. Hal tersebut dikarenakan keunggulan sistem administrasi mampu mengundang investasi karena proses perijinan yang mudah.

Kondisi sosial dan budaya masyarakat yang tertinggal umumnya tidak memiliki institusi dan perilaku kondusif bagi perkembangan ekonomi. Masyarakat yang masih primitif, kepercayaan tradisional dan nilai sosial yang konservatif dan menghambat perkembangan ekonomi menjadi salah satu faktor penyebab disparitas wilayah terjadi.

Faktor ekonomi yang menyebabkan terjadinya disparitas wilayah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  • Perbedaan kuantitas dan kualitas faktor produksi seperti lahan, infrastruktur, tenaga kerja, modal, organisasi, dan perusahaan.
  • Akumulasi berbagai faktor seperti lingkaran kemiskinan, baik karena sumberdaya yang terbatas dan ketertinggalan masyarakat yang menyebabkan kemiskinan, maupun kondisi masyarakat yang tertinggal, produktivitas rendah, efisiensi rendah, investasi rendah, pendapatan rendah, konsumsi rendah, standar hidup rendah, pengangguran meningkat yang mengakibatkan wilayah tersebut semakin tertinggal.
  • Pasar bebas dan pengaruh spread effect dan backwash effect. Kekuatan pasar bebas telah mengakibatkan faktor - faktor ekonomi seperti tenaga kerja, modal, perusahaan dan ektivitas ekonomi cenderung terkonsentrasi di wilayah - wilayah berkembang atau maju. Perkembangan wilayah ini terjadi karena penyerapan sumberdaya dari wilayah sekitar (backwash effect), sedangkan spread effect terjadi lebih lemah dibanding backwash effect sehingga wilayah yang beruntung akan semakin berkembang dan kawasan yang kurang beruntung akan semakin tertinggal.
  • Distorsi pasar seperti immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi, keterbatasan keterampilan, tenaga kerja, dll.
Disparitas antar wilayah juga diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang menekankan pertumbuhan ekonomi dengan membangun pusat - pusat pertumbuhan sehingga menimbulkan kesenjangan antar wilayah yang ekstrim. Selain itu akibat trickle down effect yang tidak terjadi secara efektif dan justru backwash effect yang mengakibatkan eksplotasi sumberdaya secara berlebihan dari wilayah hinterland.

Ketidakefisienan bidang administrasi juga menjadi penyebab disparitas antar wilayah. Wilayah yang tidak memiliki administrator jujur, terpelajar, terlatih dan sistem admistrasi yang efisien sulit untuk mengalami perkembangan dibanding wilayah yang memiliki administrasi efisien. Hal tersebut dikarenakan keunggulan sistem administrasi mampu mengundang investasi karena proses perijinan yang mudah.

Kondisi sosial dan budaya masyarakat yang tertinggal umumnya tidak memiliki institusi dan perilaku kondusif bagi perkembangan ekonomi. Masyarakat yang masih primitif, kepercayaan tradisional dan nilai sosial yang konservatif dan menghambat perkembangan ekonomi menjadi salah satu faktor penyebab disparitas wilayah terjadi.

Faktor ekonomi yang menyebabkan terjadinya disparitas wilayah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  • Perbedaan kuantitas dan kualitas faktor produksi seperti lahan, infrastruktur, tenaga kerja, modal, organisasi, dan perusahaan.
  • Akumulasi berbagai faktor seperti lingkaran kemiskinan, baik karena sumberdaya yang terbatas dan ketertinggalan masyarakat yang menyebabkan kemiskinan, maupun kondisi masyarakat yang tertinggal, produktivitas rendah, efisiensi rendah, investasi rendah, pendapatan rendah, konsumsi rendah, standar hidup rendah, pengangguran meningkat yang mengakibatkan wilayah tersebut semakin tertinggal.
  • Pasar bebas dan pengaruh spread effect dan backwash effect. Kekuatan pasar bebas telah mengakibatkan faktor - faktor ekonomi seperti tenaga kerja, modal, perusahaan dan ektivitas ekonomi cenderung terkonsentrasi di wilayah - wilayah berkembang atau maju. Perkembangan wilayah ini terjadi karena penyerapan sumberdaya dari wilayah sekitar (backwash effect), sedangkan spread effect terjadi lebih lemah dibanding backwash effect sehingga wilayah yang beruntung akan semakin berkembang dan kawasan yang kurang beruntung akan semakin tertinggal.
  • Distorsi pasar seperti immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi, keterbatasan keterampilan, tenaga kerja, dll.
Disparitas antar wilayah juga diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang menekankan pertumbuhan ekonomi dengan membangun pusat - pusat pertumbuhan sehingga menimbulkan kesenjangan antar wilayah yang ekstrim. Selain itu akibat trickle down effect yang tidak terjadi secara efektif dan justru backwash effect yang mengakibatkan eksplotasi sumberdaya secara berlebihan dari wilayah hinterland.

Ketidakefisienan bidang administrasi juga menjadi penyebab disparitas antar wilayah. Wilayah yang tidak memiliki administrator jujur, terpelajar, terlatih dan sistem admistrasi yang efisien sulit untuk mengalami perkembangan dibanding wilayah yang memiliki administrasi efisien. Hal tersebut dikarenakan keunggulan sistem administrasi mampu mengundang investasi karena proses perijinan yang mudah.

Kondisi sosial dan budaya masyarakat yang tertinggal umumnya tidak memiliki institusi dan perilaku kondusif bagi perkembangan ekonomi. Masyarakat yang masih primitif, kepercayaan tradisional dan nilai sosial yang konservatif dan menghambat perkembangan ekonomi menjadi salah satu faktor penyebab disparitas wilayah terjadi.

Faktor ekonomi yang menyebabkan terjadinya disparitas wilayah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  • Perbedaan kuantitas dan kualitas faktor produksi seperti lahan, infrastruktur, tenaga kerja, modal, organisasi, dan perusahaan.
  • Akumulasi berbagai faktor seperti lingkaran kemiskinan, baik karena sumberdaya yang terbatas dan ketertinggalan masyarakat yang menyebabkan kemiskinan, maupun kondisi masyarakat yang tertinggal, produktivitas rendah, efisiensi rendah, investasi rendah, pendapatan rendah, konsumsi rendah, standar hidup rendah, pengangguran meningkat yang mengakibatkan wilayah tersebut semakin tertinggal.
  • Pasar bebas dan pengaruh spread effect dan backwash effect. Kekuatan pasar bebas telah mengakibatkan faktor - faktor ekonomi seperti tenaga kerja, modal, perusahaan dan ektivitas ekonomi cenderung terkonsentrasi di wilayah - wilayah berkembang atau maju. Perkembangan wilayah ini terjadi karena penyerapan sumberdaya dari wilayah sekitar (backwash effect), sedangkan spread effect terjadi lebih lemah dibanding backwash effect sehingga wilayah yang beruntung akan semakin berkembang dan kawasan yang kurang beruntung akan semakin tertinggal.
  • Distorsi pasar seperti immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi, keterbatasan keterampilan, tenaga kerja, dll.
Disparitas antar wilayah juga diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang menekankan pertumbuhan ekonomi dengan membangun pusat - pusat pertumbuhan sehingga menimbulkan kesenjangan antar wilayah yang ekstrim. Selain itu akibat trickle down effect yang tidak terjadi secara efektif dan justru backwash effect yang mengakibatkan eksplotasi sumberdaya secara berlebihan dari wilayah hinterland.

Ketidakefisienan bidang administrasi juga menjadi penyebab disparitas antar wilayah. Wilayah yang tidak memiliki administrator jujur, terpelajar, terlatih dan sistem admistrasi yang efisien sulit untuk mengalami perkembangan dibanding wilayah yang memiliki administrasi efisien. Hal tersebut dikarenakan keunggulan sistem administrasi mampu mengundang investasi karena proses perijinan yang mudah.

Kondisi sosial dan budaya masyarakat yang tertinggal umumnya tidak memiliki institusi dan perilaku kondusif bagi perkembangan ekonomi. Masyarakat yang masih primitif, kepercayaan tradisional dan nilai sosial yang konservatif dan menghambat perkembangan ekonomi menjadi salah satu faktor penyebab disparitas wilayah terjadi.

Faktor ekonomi yang menyebabkan terjadinya disparitas wilayah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  • Perbedaan kuantitas dan kualitas faktor produksi seperti lahan, infrastruktur, tenaga kerja, modal, organisasi, dan perusahaan.
  • Akumulasi berbagai faktor seperti lingkaran kemiskinan, baik karena sumberdaya yang terbatas dan ketertinggalan masyarakat yang menyebabkan kemiskinan, maupun kondisi masyarakat yang tertinggal, produktivitas rendah, efisiensi rendah, investasi rendah, pendapatan rendah, konsumsi rendah, standar hidup rendah, pengangguran meningkat yang mengakibatkan wilayah tersebut semakin tertinggal.
  • Pasar bebas dan pengaruh spread effect dan backwash effect. Kekuatan pasar bebas telah mengakibatkan faktor - faktor ekonomi seperti tenaga kerja, modal, perusahaan dan ektivitas ekonomi cenderung terkonsentrasi di wilayah - wilayah berkembang atau maju. Perkembangan wilayah ini terjadi karena penyerapan sumberdaya dari wilayah sekitar (backwash effect), sedangkan spread effect terjadi lebih lemah dibanding backwash effect sehingga wilayah yang beruntung akan semakin berkembang dan kawasan yang kurang beruntung akan semakin tertinggal.
  • Distorsi pasar seperti immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi, keterbatasan keterampilan, tenaga kerja, dll.
Disparitas antar wilayah juga diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang menekankan pertumbuhan ekonomi dengan membangun pusat - pusat pertumbuhan sehingga menimbulkan kesenjangan antar wilayah yang ekstrim. Selain itu akibat trickle down effect yang tidak terjadi secara efektif dan justru backwash effect yang mengakibatkan eksplotasi sumberdaya secara berlebihan dari wilayah hinterland.

Ketidakefisienan bidang administrasi juga menjadi penyebab disparitas antar wilayah. Wilayah yang tidak memiliki administrator jujur, terpelajar, terlatih dan sistem admistrasi yang efisien sulit untuk mengalami perkembangan dibanding wilayah yang memiliki administrasi efisien. Hal tersebut dikarenakan keunggulan sistem administrasi mampu mengundang investasi karena proses perijinan yang mudah.

Kondisi sosial dan budaya masyarakat yang tertinggal umumnya tidak memiliki institusi dan perilaku kondusif bagi perkembangan ekonomi. Masyarakat yang masih primitif, kepercayaan tradisional dan nilai sosial yang konservatif dan menghambat perkembangan ekonomi menjadi salah satu faktor penyebab disparitas wilayah terjadi.

Faktor ekonomi yang menyebabkan terjadinya disparitas wilayah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  • Perbedaan kuantitas dan kualitas faktor produksi seperti lahan, infrastruktur, tenaga kerja, modal, organisasi, dan perusahaan.
  • Akumulasi berbagai faktor seperti lingkaran kemiskinan, baik karena sumberdaya yang terbatas dan ketertinggalan masyarakat yang menyebabkan kemiskinan, maupun kondisi masyarakat yang tertinggal, produktivitas rendah, efisiensi rendah, investasi rendah, pendapatan rendah, konsumsi rendah, standar hidup rendah, pengangguran meningkat yang mengakibatkan wilayah tersebut semakin tertinggal.
  • Pasar bebas dan pengaruh spread effect dan backwash effect. Kekuatan pasar bebas telah mengakibatkan faktor - faktor ekonomi seperti tenaga kerja, modal, perusahaan dan ektivitas ekonomi cenderung terkonsentrasi di wilayah - wilayah berkembang atau maju. Perkembangan wilayah ini terjadi karena penyerapan sumberdaya dari wilayah sekitar (backwash effect), sedangkan spread effect terjadi lebih lemah dibanding backwash effect sehingga wilayah yang beruntung akan semakin berkembang dan kawasan yang kurang beruntung akan semakin tertinggal.
  • Distorsi pasar seperti immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi, keterbatasan keterampilan, tenaga kerja, dll.

Tolak Ukur Kemiskinan di Indonesia



Pengertian kemiskinan banyak dipaparkan oleh para ahli, pada hakekatnya pengertian kemiskinan didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana tingkat pendapatan sesorang menyebabkan dirinya tidak dapat mengikuti tata nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Perkembangan dari pengertian kemiskinan tersebut memunculkan istilah miskin dan tidak miskin. Penggunaan istilah kedua tersebut selama ini sering meresahkan beberapa kalangan akibat penggolongan daerah miskin, sangat miskin, dan seterusnya dalam kehidupan sehari-hari sering berkonotasi merendahkan. Untuk itu perlu ditetapkan tolok ukur kemiskinan.

Beberapa tolok ukur kemiskinan di Indonesia yang sudah banyak digunakan saat ini adalah :
  1. Rasio Barang dan Jasa yang Dikonsumsi
  2. Rasio Pendapatan yang Digunakan Untuk Konsumsi Makanan
  3. Pendapatan Setara Harga Beras
  4. Pemenuhan Kebutuhan Pokok
Rasio Barang dan Jasa yang Dikonsumsi
Rasio barang dan jasa yang dikonsumsi menunjukkan bahwa semakin tinggi kesejahteraan seseorang maka semakin besar presentase pendapatan yang digunakan untuk konsumsi jasa. Tingkat . Konsep ini memiliki kelemahan untuk mengukur tingkat kemiskinan di Indonesia karena tidak adanya kejelasan perbedaan antara barang dan jasa.  Disisi lain seringkali pula kita dihadapkan pada ketidakjelasan perbedaan antar konsumsi dan biaya.

Rasio Pendapatan yang Digunakan Untuk Konsumsi Makanan
Konsumsi terhadap makanan akan selalu menjadi prioritas utama dalam pola konsumsi manusia. Konsep ini didasarkan dari pemikiran bahwa seseorang akan lebih dulu memenuhi kebutuhan makanannya sebelum konsumsi komoditi lainnya. Semakin tinggi pendapatan seseorang, maka semakin tinggi kesempatan untuk mengkonsumsi komoditi selain makanan. Dengan demikian dengan tolok ukur ini, semakin tinggi persentase pengeluaran untuk makanan terhadap total pendapatan seseorang, maka semakin tinggi tingkat kesejahteraannya. Konsep ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan di Indonesia.

Pendapatan Setara Harga Beras
Ambang batas kemiskinan di Indonesia juga telah dibuat oleh Prof. Sayogyo dari IPB bahwa ambang batas kemiskinan didasarkan setara harga beras. Berdasarkan kebutuhan kalori sebesar 120/kkal perkapita pertahun maka ditentukan ambang batas kemiskinan di Indonesia jika pendapatannya kurang dari 240 kg perkapita pertahun. Dan saat ini angka tersebut mengalami perubahan karena adanya aspirasi masyarakat sehingga ukuran relatif dari ambang batas kemiskinan untuk perkotaan di Indonesia ditingkatkan menjadi 360 kg perkapita pertahun.

Konsep ini memiliki beberapa kelemahan antara lain :

  1.  Tidak semua masyarakat dan golongan masyarakat di Indonesia memilih beras sebagai makanan pokoknya
  2. Terjadinya diferensiasi harga yang terlalu besar terutama di pedesaan
  3. Harga komoditi beras yang ada tergantung pada harga komoditi yang disubsidi atau kredit dari pemerintah (pupuk, pestisida, dan sebagainya)
Pemenuhan Kebutuhan Pokok
Konsep ini dikembangkan oleh direktorat jendral tata guna tanah dengan menetapkan kebutuhan baku minimal kemudian angka kebutuhan minimal tersebut dikalikan dengan harga dan ditotalkan hingga 9 kebutuhan pokok. Pengukuran kesejahteraan ini memang didasarkan pada kebutuhan atas 9 bahan pokok.

Tingkat pengeluaran keluarga dihitung dalam rupiah kemudian disusun suatu kriteria perbandingan antara total pendapatan dengan indeks kebutuhan sembilan bahan pokok. Hasil yang diperoleh kurang dari 75% tergolong sangat miskin, 75-100% hampir sangat miskin, 100-125% miskin dan > 125% tidak miskin.

Konsep inipun mempunyai beberapa kelemahan diantaranya adalah :
  1. Kesulitan dalam menentukan satuan fisik kebutuhan minimal karena kebutuhan tiap wilayah beragam
  2. Sebagian dari sembilan bahan pokok tersebut disubsidi pemerintah dan sebagian lainnya tidak sehingga kurang homogen

Pengertian Infrastruktur, Sistem dan juga Komponennya



Pengertian Infrastruktur
Pengertian Infrastruktur tercantum dalam beberapa versi. Pengertian Infrastruktur menurut American Public Works Association (Stone, 1974 Dalam Kodoatie,R.J.,2005), adalah fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan sosial dan ekonomi. Jadi infrastruktur merupakan sistem fisik yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi.
Secara teknik, infrastruktur memiliki arti dan definisi sendiri yaitu merupakan aset fisik yang dirancang dalam sistem sehingga memberikan pelayanan publik yang penting.
Sistem Infrastruktur
Sistem infrastruktur didefinisikan sebagai fasilitas atau struktur dasar, peralatan, instalasi yang dibangun dan yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan sistem ekonomi masyarakat (Grigg, 2000 dalam Kodoatie,R.J.,2005). Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kehidupan masyarakat.


Disini, infrastruktur berperan penting sebagai mediator antara sistem ekonomi dan sosial dalam tatanan kehidupan manusia dan lingkungan. Kondisi itu agar harmonisasi kehidupan tetap terjaga dalam arti infrastruktur tidak kekurangan (berdampak pada manusia), tapi juga tidak berlebihan tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan alam karena akan merusak alam dan pada akhirnya berdampak juga kepada manusia dan makhluk hidup lainnya.


Pengelompokan sistem insfrastruktur dapat dibedakan menjadi (Grigg, 2000 dalam Kodoatie,R.J.,2005) :
  1. Grup keairan
  2. Grup distribusi dan produksi energi
  3. Grup komunikasi
  4. Grup transportasi (jalan, rel)
  5. Grup bangunan
  6. Grup pelayanan transportasi (stasiun, terminal, bandara, pelabuhan, dll)
  7. Grup pengelolaan limbah

Komponen Infrastruktur

Komponen-komponen di dalam infrastruktur menurut APWA (American Public Works Association) adalah :
  1. Sistem penyediaan air : waduk, penampungan air, transmisi dan distribusi, fasilitas pengolahan air (water treatment)
  2. Sistem pengelolaan air limbah : pengumpul, pengolahan, pembuangan, daur ulang
  3. Fasilitas pengelolaan limbah padat
  4. Fasilitas pengendalian banjir, drainase dan irigasi
  5. Fasilitas lintas air dan navigasi
  6. Fasilitas transportasi: jalan, rel, bandar udara (termasuk tanda-tanda lalu lintas dan fasilitas pengontrol
  7. Sistem transit publik
  8. Sistem kelistrikan: produksi dan distribusi
  9. Fasilitas gas alam
  10. Gedung publik: sekolah, rumah sakit
  11. Fasilitas perumahan publik
  12. Taman kota sebagai daerah resapan, tempat bermain termasuk stadion
  13. Komunikasi
Sedangkan menurut P3KT, komponen-komponen infrastruktur antara lain:
  1. Perencanaan kota
  2. Peremajaan kota
  3. Pembangunan kota baru
  4. Jalan kota
  5. Air minum
  6. Drainase
  7. Air limbah
  8. Persampahan
  9. Pengendalian banjir
  10. Perumahan
  11. Perbaikan kampung
  12. Perbaikan prasarana kawasan pasar
  13. Rumah sewa
Dilihat dari input - output bagi penduduk, komponen-komponen tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga karakteristik, yaitu:
  1. Komponen yang memberi input kepada penduduk. Jenis infrastruktur yang termasuk dalam kategori ini adalah prasarana air minum dan listrik
  2. Komponen yang mengambil output dari penduduk. Jenis infrastruktur yang termasuk dalam kelompok ini adalah prasarana drainase/pengendalian banjir, pembuangan air kotor/sanitasi, dan pembuangan sampah.
  3. Komponen yang dapat dipakai untuk memberi input maupun mengambil output. Jenis infrastruktur yang termasuk dalam kelompok ini meliputi: prasarana jalan dan telepon.